Minggu, 22 Juni 2008

GIS

Geographical Information System
Geographical Information System (GIS) adalah alat bantu yang sangat esensial dalam menyimpan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan kembali kondisi-kondisi alam dengan bantuan data atribut dan data spasial yang dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian GIS merupakan salah satu bentuk system informasi dengan penekanan pada informasi geografis yaitu mengenai tempat/posisi suatu objek di permukaan bumi dan informasi mengenai keterangan atau atributnya.
GIS saat ini merupakan komponen inovatif dan penting dalam proyek kesehatan masyarakat dan epidemiologi. GIS sangat sesuai untuk mempelajari hubungan antara lokasi, lingkungan dan penyakit, karena kemampuannya menampilkan data spasial. GIS sangat banyak dipakai dalam surveilens dan monitoring penyakit yang ditularkan oleh air dan sumber air, dalam kesehatan lingkungan, dalam analisa kebijakan dan perencanaan kesehatan dan lain-lain proyek kesehatan.
GIS memberikan banyak manfaat dalam kesehatan. GIS dapat menyediakan hasil analisa data epidemiologi dengan baik, menyajikan trends, ketergantungan dan saling keterkaitan yang akan sulit apabila ditampilkan dengan bentuk table. Selain itu GIS menyajikan gambaran permasalahan kesehatan dalam hubungannya dengan sumber daya dan populasi target sehingga memudahkan bagi para pengambil kebijakan untuk mengambil keputusan.
Dengan GIS sumber daya kesehatan masyarakat, penyakit tertentu dan permasalahan kesehatan lainnya dapat dipetakan dalam bentuk hubungannya dengan lingkungan serta infrastuktur kesehatan dan social. informasi tersebut apabila dipetakan secara bersama-sama dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk monitoring dan manajemen kebijakan penyakit dan program kesehatan lainnya. Dengan GIS, pengambilan kebijakan dapat melihat populasi berada,dimana sumber daya kesehatan tersedia,dimana kebutuhan akan pelayanan kesehatan berada, dan dimana menjangkau sumber daya kesehatan
Balai laboratorium Kesehatan Semarang melaksanakan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan kimia, patologi, mikrobiologi dan imunologi. Seksi kimia adalah salah satu seksi di Balai Laboratorium Kesehatan yang mempunyai kemampuan untuk analisa fisika, kimia, bakteriologi air, baik air bersih, air minum, air badan air, air limbah, air kolam renang. Seksi ini menerima sampel air dari berbagai institusi seperti, rumah sakit, hotel, pabrik, restoran yang memiliki sarana air bersih/sarana pengolahan limbah untuk mengetahui kualitas air atau mengetahui tingkat resiko pencemarannya. Dengan demikian Balai Laboratorium Kesehatan Semarang merupakan salah satu sumber data primer hasil-hasil pemeriksaan kesehatan dan lingkungan. Data-data tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan riset, mengetahui tingkat resiko pencemaran lingkungan, mengetahui kualitas air masyarakat, kondisi klinis masyarakat (penyakit diare) sehingga akhirnya dapat dipergunakan untuk menyusun tindakan intervensi yang tepat dilakukan.
Data hasil pemeriksaan kualitas kimia air selama ini belum dimanfaatkan menjadi informasi bagi masyarakat, misalnya untuk melakukan pemetaan kualitas air, sehingga dapat diketahui daerah mana saja yang kualitas kimia airnya normal atau yang tidak sesuai standar. Selanjutnya bisa direncanakan tindakan untuk pengawasan kualitas air, program PKA, perbaikan SAB, PSM, dan mengetahui penyebab pencemaran sarana air bersih. Dengan alat bantu berupa software GIS kegiatan pemetaan tersebut dapat dilakukan.
Berdasarkan uraian pada tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu diperlukan peta stratifikasi wilayah yang isinya mengenai informasi-informasi yang menggambarkan kondisi kualitas air masyarakat berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan laboratorium yang diperoleh di BLK Semarang.

II. Gambaran Aplikasi
Tahapan perancangan adalah tahapan penentuan proses dan data yang diperlukan oleh system baru. Sistem informasi pemantauan kualitas air yang akan dirancang hanya dibatasi untuk pembuatan peta stratifikasi wilayah yang isinya mengenai informasi-informasi yang menggambarkan situasi pencemaran bakteriologi.
Aplikasi yang diperlukan misalnya menentukan type GIS pembuatan shapefile : .shp (karakteristik geometri), shx (index karakteristik geometri), .dbf (informasi atribut), menentukan menu dan sub menunya, membuat peta baru, data base, peta tematik, data query, label dan layout peta, dan sebagainya.

III. Gambaran Rancangan GIS
Perancangan logic dari file-file basis data tersebut adalah:
a) Tabel sampel (No_sampel, Pengambilan, kode_SAB, tgl_ambil, jam_ambil, pemilik, tgl_periksa, jam_periksa, RW, Desa, Kecamatan, pH, Cl,jenis_air,Perkiraan, penegasan_I, penegasan II,klas_I, klas_II, MPN_I,MPN_II).
b) TabelInspeksi (No_sampel, jenis_SAB,kode_SAB,keruh,warna,rasa,bau,resiko)
c) Tabel alamat (kode_desa, nama_ desa, nama_kecamatan, kabupaten, jml_penduduk, jumlah_SAB, SGL,SPT,PAH,PMA,TA,SGL_plus, HU,SR, lain)
d) Tabel Laboratorium (nama,NIP,Jenis_air,sumber_ dana, kepada, alamat,kota, tembusan_1, tembusan_2, tembusan_3, tembusan_4)
Pada layar system informasi pemantauan kualitas air terdapat 4 macam menu utama yaitu :
1. Entry data
· Entry data (baru)
· Ubah/edit data (lama)
· Identifikasi wilayah
2. Browse
· Hasil pemeriksaan
· Kode wilayah
· Status/ kategori /klasifikasi
3. Laporan
· Statistik BLK
· Statistic Dinas Kesehatan
· Up date (proses)
4. Utility
· Tabel hasil laboratorium
· Offset cetak
· Pilhan waktu
· Index/reindex data
· Copy master/back up
Sistem informasi ini memerlukan theme sebagai berikut :
a) Kota shp : berisi peta kota semarang
b) Kecamatan shp : berisi kecamatan dikota Semarang
c) Sentra shp : berisi sentra-sentra industri,rumah sakit,hotel, restorant
d) Sungai shp : berisi sungai besar di kota Semarang
Sistem informasi ini memerlukan grafik sebagai berikut :
a) Grafik laporan keadaan SAB (sarana Air Bersih)
b) Grafik kualitas bakteriologi air
c) Grafik tingkat resiko pencemaran
d) Grafik SAB yang tidak memenuhi sayarat fisik
e) Grafik kualitas bakteriulogi pada setiap tingkat resiko
f) Grafik SAB yang tidak memenuhi syarat kimia
Definisi atribut setiap table adalah sebagai berikut :
a) Rancangan table inpeksi
Nama Field
Tipe Data
Ukuran
Nomor_sampel
Text
15
Kode _SAB
Text
20
Jenis_SAB
Text
1
Keruh
Text
1
Warna
Text
1
Rasa
Text
1
Bau
Text
1
Resiko
Text
1


b. Rancangan table alamat
Nama field
Tipe Data
Ukuran
Kode_desa
Number
10
Nama_desa
Text
20
Kecamatan
Text
20
Kabupaten
Text
20
Jml_SAB
Number
6
Jml_penduduk
Number
6
SGL
Number
6
SPT
Number
6
PAH
Number
6
PMA
Number
6
TA
Number
6
SGL_plus
Number
6
HU
Number
6
SR
Number
6
Lain
Number
6

b) Rancangan table sampel
Nama Field
Type Data
Ukuran
No_sampel
Text
15
Pengambilan
Text
20
Kode_SAB
Text
20
Tgl_ambil
Date
2
Jam_ambil
Time

Pemilik
Text
30
Tgl_periksa
Text
30
Jam_periksa
Text
20
RW
Number
2
Desa
Date
25
Kecamatan
Text
25
PH
Number
4
Cl
Number
3
Jenis air
Number
3
Perkiraan
Number
3
Penegasan I
Number
3
Penegasan II
Number
3
Klas I
Text
1
Klas II
Text
1
MPN I
Number
3
MPN II
Number
3

d. Rancangan table laboratorium
Nama Field
Tipe Data
Ukuran
Nama Ka_lab
Text
20
NIP
Number
9
Jenis Air
Text
1
Sumber _dana
Text
25
Kepada
Text
25
Alamat
Text
35
Kota
Text
20
Tembusan_1
Text
30
Tembusan_2
Text
30
Tembusan_3
Text
30
Tembusan
Text
30

Sistem informasi ini juga memerlukan perancangan dialog antar muka seperti : laporan, grafik, menu utama dan sub menu. Jenis data GIS berupa data spasial adalah data yang berupa informasi visual, seperti kontur tabah suatu bentang alam, peta buta, dan data non spasial adalah informasi yang diberikan dalam bentuk teks dan angka seperti jumlah penduduk,panjnag jalan,luas wilayah.

IV. Manfaat GIS
GIS atau system informasi berbasis pemetaan dan geografi adalah sebuah alat bantu manajemen berupa informasi berbantuan computer yang terkait dengan system pemetaan dan analisis terhadap segala sesuatu, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi dimuka bumi.
Teknologi GIS mengintegrasikan operasi pengolahan data berbasis database yang biasa digunakan, seperti pengambilan data berdasarkan kebutuhan serta analisis statistic dengan menggunakan visualisasi yang khas serta berbagai keuntungan yang mampu ditawarkan melalui analisis geografis melalui gambar-gambar tentu.
Pemanfaatan GIS dalam mendukung pemantauan kualitas air diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengambilan keputusan pengawasan kualitas air, sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat dan cocok pada masing-masing stratifikasi kualitas air. Dengan adanya GIS diharapkan tersedia informasi yang cepat, benardan akurat tantang keadaan kualitas air di lingkungannya,

V. Daftar Pustaka
Prahasta , E., 2001. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Penerbit informatika Bandung.

Laura Lang., 2001. GIS for Health Organization. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda